Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Forum Litbang/ Perpustkaan Online

Teknologi Budidaya Jagung (Zea maize) Tanpa Olah Tanah (TOT) pada Lahan Sawah Tadah Hujan
Written by Administrator   
Friday, 22 February 2013 15:31
  1. Latar Belakang

    Jagung (Zea maize) adalah komoditas pangan kedua setelah padi. Komoditas ini mempunyai wilayah adaptasi yang cukup luas mulai lahan subur hingga lahan marginal. Dapat dikembangkan mulai agroekosistem lahan kering, lahan sawah tadah hujan hingga lahan sawah irigasi. Secara nasional pengembangan jagung pada lahan kering menempati urutan terluas. Namun akhir-akhir ini pengembangan jagung pada lahan sawah tadah hujan mendekati luasan pengembangan jagung pada lahan kering.

    Pengembangan jagung pada lahan sawah tadah hujan semakin berkembang dengan munculnya Program SL-PTT jagung pada agroekosistem tersebut setelah padi rendengan. Pengembangan jagung dapat dilakukan dengan menerapkan sistem tanam tanpa olah tanah (TOT) dan sistem tanam olah tanah sempurna (OTS) tergantung kondisi lahan. Sistem tanam TOT pada agroekosistem lahan sawah tadah hujan dapat meningkatkan produksi jagung melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung.

    Produktivitas jagung regional Sulawesi Selatan tahun 2010 baru mencapai 5,02 t/ha sementara potensi hasil jagung yang ditanam petani mencapai 9-10 t/ha. Tingginya selisih antara potensi hasil varietas dengan rataan hasil yang dicapai petani disebabkan penerapan teknologi masih fluktuatif. Penerapan sistem tanam TOT pada lahan sawah tadah hujan selain dapat mempercepat waktu tanam juga biaya produksinya rendah serta produksi pipilan kering yang dicapai sama bahkan lebih bagus dari sistem tanam olah tanah sempurna (OTS).

    Penerapan sistem tanam TOT memiliki efisiensi waktu 15-20 hari bahkan 30 hari dibanding sistem tanam OTS. Dengan demikian penerapan sistem TOT pada jagung sangat efektif diterapkan pada daerah bercurah hujan pendek. Mempercepat waktu tanam jagung segera setelah panen padi pada lahan sawah tadah hujan dapat memanfaatkan sisa air tanah sehingga menghemat biaya pengairan. Penerapan teknologi tanpa olah tanah mematikan rumput (gulma) tidak dengan pengolahan tanah melainkan dengan menggunakan herbisida sistemik. Dengan demikian tekstur tanah tidak terganggu dan kelembaban tanah lebih stabil mendukung pertumbuhan tanaman.

  2. Tujuan

    Penerapan sistem tanam jagung dengan tanpa olah tanah bertujuan untuk :

    1. Mengurangi biaya produksi dengan tidak mengurangi hasil pipilan kering.
    2. Mempercepat waktu tanam jagung setelah panen padi sehingga sisa air tanah dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman jagung.
    3. Meningkatkan pendapatan petani jagung pada daerah bercurah hujan pendek pada khususnya dan daerah bercurah hujan normal pada umumnya.
  3. Pelaksana

    Tahapan pelaksanaan teknologi budidaya jagung sistem tanam TOT pada lahan sawah tadah hujan adalah :

    • Pembersihan lahan

      Lahan sawah tadah hujan yang akan ditanami jagung terlebih dahulu dibersihkan dari jerami padi sebelumnya bila panen padi dengan mesin dros. Tapi bilamana panen dilakukan dengan memotong batang padi dekat permukaan tanah dengan sabit, pembersihan lahan lebih mudah.

      Gambar panen dengan sabit

      Gbr.1. Panen dengan sabit

    • Aplikasi Herbisida

      Apabila herbisida untuk rumput/gulma pada lahan tanpa olah tanah sebaiknya menggunakan herbisida sistemik. Herbisida sistemik mematikan rumput/gulma hingga keakarnya. Takaran bahan aktif herbisida per liter air tercantum pada label pembungkus. Dosis herbisida yang digunakan tergantung ketebalan rumput/gulma, umumnya digunakan dosis 3 liter/ha atau 400-500 larutan semprot/ha. Tiga – empat hari setelah aplikasi herbisida dikontrol kembali rumput/gulma yang belum terkena semprotan. Satu minggu setelah aplikasi herbisida dilanjutkan dengan penanaman penanaman.

    • Pembuatan saluran irigasi

      Sebelum penanaman dimulai pada lahan sawah tadah hujan, terlebih dahulu dibuat saluran irigasi keliling lahan dan saluran memotong lahan setiap jarak 2m dengan menggunakan hand traktor. Saluran tersebut berfungsi untuk mengairi tanaman bila kekurangan air. Berbeda dengan lahan kering yang dibuat saluran drainase untuk membuang air berlebih dimusim hujan. Agar diperoleh jarak 2m, terlebih dahulu dibuat ukuran yang diberi tanda agar saluran irigasi yang terbentuk lurus.

      Pembuatan saluran irigasi

      Gbr.2. Pembuatan saluran irigasi tiap 2 m

    • Penanaman

      Satu minggu setelah penyemprotan rumput/gulma dilanjutkan dengan penanaman diatas bedengan tanam selebar 2m (3 baris tanaman). Penanaman dilakukan dengan tugal 2 biji/lubang. Selanjutnya lubang tanam langsung ditutup dengan pupuk kandang agar mudah ditembus kecambah tanaman. Fungsi lain dari pupuk kandang selain sebagai penutup lubang juga sebagai pupuk dari tanaman yang baru tumbuh. Barisan tanaman yang memotong parit/irigasi, sebaiknya diadakan perbaikan parit/irigasi dengan cara meluruskan parit tersebut dengan cangkul.

      Gbr.3. Penanaman Gbr. 4. Tanaman berumur 15 hst
      Gbr.3. Penanaman Gbr. 4. Tanaman berumur 15 hst

      Satu minggu setelah tanam dilakukan penyulaman dengan bibit yang seumur agar efektif pertumbuhannya. Agar diperoleh bibit seumur, maka akhir kegiatan penanaman pada lahan dibibitkan benih jagung dalam koker yang telah disiapkan sebelumnya. Dengan demikian umur bibit pada lahan seumur dengan bibit yang disemaikan dalam koker. Benih yang berdaya kecambah > 95 % akan diperoleh populasi tanaman 66.000/ha.

    • Penggunaan jarak tanam

      Jarak tanam yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lahan, sifat varietas dan musim. Pada kondisi lahan subur sebaiknya digunakan jarak tanam agak lebar dibanding lahan kurang subur. Pada tanah subur pertumbuhan tanaman lebih besar dibanding tanah kurang subur sehingga membutuhkan ruang tumbuh yang lebih lebar. Selain faktor kesuburan tanah, ada varietas yang secara genetis memiliki kanopi lebar sehingga jarak tanam yang digunakan lebih lebar dibanding varietas yang secara genetis memiliki kanopi sempit. Selain faktor kesuburan lahan dan sifat genetis tanaman, musim juga turut menentukan penggunaan jarak tanam. Pada musim hujan jarak tanam yang digunakan lebih lebar dibanding musim kemarau. Pada musim kemarau jarak tanam yang digunakan lebih rapat dibanding pada musim hujan. Hal ini disebabkan pada musim kemarau penguapan air tinggi dibanding musim hujan sehingga untuk mengurangi penguapan air digunakan jarak tanam rapat. Jarak tanam yang umum digunakan adalah : 70-75cm x 20cm, 1 tanaman/ lubang atau 70–75cm x 40cm, 2 tanaman/lubang dengan populasi= 66.000-71.000 tanaman/ha. Atau menggunakan cara tanam legowo 90–40cm x 20cm, 1 tanaman/lubang atau 100–40cm x 40cm, 2 tanaman/lubang dengan populasi = 71.000 - 77.000 tan/ha. Penanaman dilakukan dengan tugal dan tali jarak tanam yang telah diberi tanda sesuai ukuran yang akan digunakan. Berikut diperlihatkan beberapa jarak tanam yang biasa digunakan di lapangan. Penggunaan cara tanam legowo sangat efektif dilakukan untuk menujang peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung pada lahan sawah tadah hujan. Cara tanam legowo selain memberikan border

      penggunaan jarak tanam

      bagi tanaman juga mempermudah penanaman selanjutnya sebelum tanaman sebelumnya panen. Border bagi tanaman berarti memperbanyak tanaman pinggir sehingga memberikan penyinaran yang merata bagi tanaman tanpa ada ternaungi.

    • Pemupukan

      Pemupukan dilakukan agar tanaman tumbuh dengan subur dan berproduksi optimal. Pemupukan didasarkan atas kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Pupuk yang umum digunakan adalah pupuk tunggal yaitu Urea sebagai pupuk N, SP-36 sebagai pupuk P dan KCl sebagai pupuk K. Karena pupuk tunggal KCl sudah tidak tersedia dipasaran, maka pupuk Kalium diambil dari pupuk majemuk NPK. Pemupukan dilakukan dua kali yaitu umur tanaman 10 dan 35 hari setelah tanam (hst) pada jenis tanah yang didominasi liat dan tiga kali yaitu umur 7-10 hst, 28-30 hst dan 40-45 hst. pada tanah yang didominasi pasir. Pemupukan ketiga menggunakan BWD untuk menentukan kebutuhan N tanaman. Takaran pupuk tunggal per hektar yang umum digunakan adalah 350 kg Urea + 200 kg SP-36 + 100 kg KCl. Sedang takaran pupuk majemuk per hektar yang digunakan adalah 400 kg NPK 15:15:15 + 270 kg Urea + 80 kg SP-36. Kebutuhan pupuk jagung hibrida lebih besar dibading jagung komposit. Berapa banyak hara N yang dibutuhkan untuk memcu pertumbuhan tanaman ditentukan melalui pembacaan BWD (Bagan Warna Daun) pada umur tanaman 42 - 45 hst.

      Tabel 1. Takaran penggunaan pupuk tunggal

      Jenis pupuk Takaran Pupuk
      (kg/ha
      Takaran pupuk/umur tanaman (kg/ha)
      7 – 10 hst 28 – 30 hst 40 – 45 hst
      Urea 350 150 200 BWD
      ZA 50 50 - -
      SP-36 200 200 - -
      KCL 100 50 50 -

      Tabel 2. Takaran penggunaan pupuk majemuk NPK 15:15:15

      Jenis pupuk Takaran Pupuk
      (kg/ha
      Takaran pupuk/umur tanaman (kg/ha)
      7 – 10 hst 28 – 30 hst 40 – 45 hst
      NPK 15:15:15 400 150 250 -
      SP-36 80 - - -
      Urea 270 120
      150 BWD
    • Gejala kekurangan hara tanaman jagung

      Tanaman jagung termasuk komoditas pangan yang sangat respon dengan pemupukan. Gejala defisiensi tanaman akan suatu unsur dapat kelihatan pada organ vegetatif (daun) dan organ produksi (tongkol). Berikut diperlihatkan defisiensi hara tertentu pada tanaman jagung :

      • Kekurangan N (Nitrogen)
        Gambar kekurangan N Gambar kekurangan N
        Gejala kekurangan nitrogen (N):
        Daun berwarna kuning pada ujung daun dan melebar menuju tulang daun. Warna kuning membentuk huruf V. Gepajala nampak pada daun bagian bawah
        Gejala lain tanaman kekurangan nitrogen (N) yaitu tongkol kecil dan ujung tongkol   tidak berbiji.
        Gambar kekurangan N Gambar kekurangan N
        Gejala kekurangan posphor (P) : pinggir daun berwarna ungu kemerahan mulai dari ujung ke pangkal daun. Gejala nampak pada daun bagian bawa. Gejala lain tanaman kekurangan posfor (P), kesuburan polen menurun sehingga mengganggu persarian dan pembentukan biji, pembentukan biji tidak sempurna, tongkol kecil dan sering bengkok
      • Kekuragan Kalium (K)
        Gambar gejala kekurangan kalium (K) gambar gejala kekurangan kalium (K)
        Gejala Kekurangan Kalium (K):
        Daun berwarna kuning, bagian pinggir biasanya berwarna coklat seperti terbakar, tulang daun tetap hijau. Gejala warna kuning membentuk huruf V terbalik. Gejala nampak pada daun bagian bawah.
        Gejala lain tanaman kekurangan kalium (K) yaitu ujung tongkol tidak berbiji penuh, bijinya jarang dan tidak sempurna
      • Kekurangan S
        Gejala Kekurangan SUlfur (S) :
        Gambar gejala kekurangan sulfur Gejala kekurangan Sulfur (S):
        Pangkal daun berwarna kuning dan bergaris-gasir. Gejala nampak pada daun yang terletak dekat pucuk

Pembacaan BWD

  1. Dipilih sebanyak 20 tanaman secara acak pada setiap petakan pertanaman.
  2. Daun yang diamati yaitu daun ke tiga dari atas yang sudah terbuka sempurna
  3. Daun yang dipantau warnanya diletakkan diatas BWD yaitu 1/3 dari ujung daun. Warna daun dibandingkan dengan BWD, skala yang paling sesuai dengan warna daun dicatat.
  4. BWD mempunyai nilai skala 2-5, jika warna daun berada diantara skala 2 dan 3, gunakan nilai 2,5 jika diantara skala 3 dan 4 gunakan nilai 3,5 dan jika diantara skala 4 dan 5 gunakan skala 4,5. Skala yang baik untuk pertumbuhan dan produksi pipilan kering yang maksimal yaitu diatas 4 (empat).
  5. Contoh pemupukan dengan menggunakan BWD.
    1. Pemupukan I, tanaman dipupuk 50 kg N (111 kg Urea/ha) bersamaan pupuk P dan K
    2. Pemupukan II, tanaman dipupuk 75 kg N (167 kg Urea/ha).
    3. Pemupukan III, tanaman dipupuk sesuai pembacaan BWD (42-45 hst).

      BWD

      Skala BWD Takaran pupuk Urea (kg/ha) Dosis pupuk yang digunakan (kg/ha)
      Hibrida Komposit Hibrida Komposit
      4,0 158 56 436 334
      4,2 124 41 402 319
      4,4 76 8 354 286
      4,5 31 0 309 278

Pengairan

Tanaman jagung termasuk komoditas yang tidak banyak membutuhkan air, namun bila terjadi defisiensi air segera diairi. Jumlah air yang digunakan tanaman dipengaruhi oleh suhu udara, angin, jumlah air tersedia dalam tanah dan kelembaban. Tingkat penggunaan air tanaman jagung 400 – 500 ml/musim atau 6 – 7,5 ml/hari.
Fase pertumbuhan tanaman jagung yang perlu pengairan yaitu:  1) fase pertumbuhan awal selama 15 – 25 hari,  2) fase fegetatif selama 25 – 40 hari, 3) fase pembungaan selama 15 – 20 hari, 4) fase pengisian biji selama 35 – 45 hari dan  5) fase pematangan selama 10 – 25 hari. Daya tahan air pada lahan sawah yang ditanami jagung dengan teknologi tanpa olah tanah lebih lama dibanding dengan teknologi olah tanah sempurna.

Fase pertumbuhan tanaman jagung.

gambar fase pertumbuhan tanaman jagung

Model Pemberian Air

Ada beberapa model pemberian air tanaman jagung yaitu :

  1. Model genangan
  2. Model alur (furrow)
  3. Model bawah permukaan (sub surface)
  4. Model pancaran (sprinkler)
  5. Model tetes (drip).

Dari sekian model pemberian air tanaman jagung,  yang umum digunakan petani adalah model alur (furrow). Alur dibuat dengan bajak singkal yang memotong lahan pertanaman setiap jarak tertentu (2m untuk 3 baris tanaman). Frekwensi pemberian air tanaman berkisar 5-6 kali bahkan ada yang lebih tergantung jenis tanah. Pada tanah yang didominasi liat pemberian air tanaman tidak sebanyak tanah yang didominasi pasir. Berikut model pemberian air model alur (furrow) :

Gambar pengairan sistem alur

Model pengairan sistem alur

Keuntungan model pengairan sistem alur ialah :

  1. Lebih efisien pemakaian air tanaman.
  2. Air terdistribusi merata kesetiap barisan tanaman.
  3. Hanya bagian pinggir alur yang basah sehingga sedikit air yang menguap.
  4. Tanah cepat dapat diolah karena tidak berlumpur.

Panen

Panen dilakukan apabila tanaman jagung memperlihatkan tanda – tanda :

  1. Kelobot sudah kering
  2. Umur panen sudah sampai (sesuai deskripsi)
  3. Apabila sudah terbentuk lapisan hitam pada dasar biji
  4. Sebagian daun berwarna kuning dan agak kering (Gumarang) kecuali varieas Bima (1-5) daunnya tetap hijau walau kelobot sudah tua (kering).

    gambar.

    Pengembangan jagung varietas Bima (1-5) sangat cocok diintegrasikan  dengan ternak ruminansia besar (sapi atau kerbau) karena biomasnya dapat dibuat pakan ternak.

  5. Bila sudah terbentuk black layer (lapisan hitam) pada biji, bisa dilakukan pemotongan batang diatas tongkol. Apabila belum terbentuk lapisan hitam pada dasar biji, maka jagung belum masak fisiologis. Jika dilakukan pemanenan pada keadaan tersebut, maka biji tidak bernas dan bobotnya ringan.
    Gambar

    Pemangkasan biomas diatas tongkol dan panen

    Pemangkasan batang (biomas) dibagian atas tongkol bertujuan untuk : (1) mempercepat proses pengeringan jagung dibatang sebelum panen, (2) agar biomas diatas tongkol dapat dijadikan pakan, (3) mempermudah pelaksanaan panen  jagung.

  6. Penjemuran hasil panenan.
    Gambar

    Penjemuran hasil panen dan pemupukan untuk prosessing

    Penjemuran hasil panenan segera dilakukan untuk menghindari tumbuhnya jamur pada biji jagung. Penjemuran dilakukan 3-4 hari untuk menurunkan kadar air biji sebelum diprosessing. Biji yang diprosessing dengan kadar air tinggi mudah rusak (biji pecak atau lapisan biji terkelupas). Penjemuran biji jagung tergantung peruntukannya.  Apabila peruntukannya dikonsumsi atau dijual, maka penjemuran cukup sampai kadar air 14%, sedang   apabila peruntukannya benih, maka kadar air harus diturunkan 10 – 12%.

Hasil kajian jagung yang diolah secara tanpa olah tanah  (TOT) dan olah tanah sempurna (OTS) di kabupaten Takalar (Tabel 2).

Tabel 1. Produksi jagung yang diolah secara TOT dan OTS di lahan sawah tadah hujan

Perlakuan Produksi (t/ha)

TOT
Tanpa Olah Tanah

Varietas

Bima-2 13,56 a

Bima-3 12,83 b

Lamuru 7,96 de

Sukmaraga 8,53 d
Gumarang 7,96 de
OTS
Olah Tanah Sempurna
Varietas
Bima-2 13,20 ab
Bima-3 12,00 c
Lamuru 7,80 e
Sukmaraga 8,10 de
Gumarang 7,96 de
Last Updated on Friday, 22 February 2013 16:04
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com